
JAKARTA, Tunasnews.com – Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, akan meluncurkan sekaligus membedah kitab karyanya berjudul Ithafu Ummati Al Muqtafa pada Jumat (10/7/2026) pukul 19.00 WIB di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat.
Kegiatan bertajuk Launching & Bedah Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa – Persembahan untuk Umat Kanjeng Nabi SAW tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali tradisi intelektual ulama, khususnya budaya menulis kitab di lingkungan Nahdlatul Ulama, pesantren, perguruan tinggi Islam, dan lembaga keagamaan.
Peluncuran kitab berlangsung menjelang Muktamar PBNU, di tengah meningkatnya perhatian terhadap arah kepemimpinan organisasi, penguatan tradisi keilmuan, serta peran strategis NU dalam menjawab berbagai tantangan umat dan kebangsaan.
Dalam keterangannya, KH Zulfa Mustofa menegaskan bahwa tradisi menulis merupakan bagian penting dari kesinambungan keilmuan Islam. Menurutnya, kemajuan peradaban Islam sejak masa awal hingga berkembang di Nusantara tidak hanya ditopang oleh lahirnya ulama yang alim dan berakhlak, tetapi juga oleh karya-karya ilmiah yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Tradisi ulama adalah tradisi ilmu. Dan tradisi ilmu tidak akan kokoh tanpa tradisi menulis. Karena itulah para ulama terdahulu tidak hanya mendidik murid, tetapi juga meninggalkan kitab sebagai warisan intelektual bagi umat,” ujar KH Zulfa dalam keterangan tertulis, Rabu (8/7/2026).
Ia menilai pesantren selama ini telah menjadi pusat transmisi ilmu-ilmu keislaman melalui kajian kitab kuning. Namun, menurutnya, pesantren juga perlu terus melahirkan karya-karya baru yang mampu menjawab perkembangan zaman, mulai dari kemajuan teknologi, perubahan sosial, hingga persoalan kebangsaan dan kemanusiaan.
“Memang penting dan perlu kita membaca, mengaji, dan mengkaji kitab para ulama terdahulu. Tetapi para ulama juga memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan karya yang dapat menjadi rujukan bagi generasi mendatang. Di situlah estafet keilmuan terus berjalan,” katanya.
KH Zulfa menegaskan bahwa tradisi keulamaan Nahdlatul Ulama tidak boleh berhenti pada pengajaran dan pengajian semata, melainkan harus berkembang menjadi tradisi produksi ilmu melalui penulisan kitab dan penguatan literasi Islam Indonesia.
Menurutnya, menulis kitab bukan hanya aktivitas akademik, tetapi juga bagian dari dakwah dan pengabdian kepada umat. Melalui karya tulis, ilmu dapat diwariskan, dipelajari, dan terus dikembangkan lintas generasi.
“Ceramah dapat menggerakkan hati pada masanya. Tetapi kitab menjaga ilmu tetap hidup sepanjang masa. Karena itu, setiap ulama perlu memiliki semangat untuk meninggalkan karya sebagai bagian dari amal jariyah keilmuan,” ujarnya.
Ia berharap semangat menulis kembali tumbuh di kalangan ulama, pesantren, perguruan tinggi, maupun lembaga bahtsul masail sehingga tradisi membaca berjalan seiring dengan tradisi menulis demi memperkaya khazanah keilmuan Islam Indonesia.
Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa diharapkan menjadi salah satu kontribusi dalam memperkuat literasi Islam yang berlandaskan sanad keilmuan, tetap berpijak pada tradisi pesantren, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman.
Acara peluncuran dan bedah kitab tersebut akan dihadiri ulama, kiai, akademisi, santri, tokoh masyarakat, serta warga Nahdliyin. Kegiatan itu dijadwalkan dipandu oleh Gus Miftah sebagai moderator.
Red. : Ryoga Pratama