Watu Gede Kutorejo, Jejak Sejarah Majapahit di Tengah Kecamatan

Monumen Watu Gede (Selo Ageng) yang berada di pusat Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto (Achmad Latifullah/Tunasnews.com)

MOJOKERTO, Tunasnews.com – Monumen Watu Gede atau yang dikenal masyarakat dengan sebutan Selo Ageng menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang berada di pusat Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Batu berukuran besar ini diyakini telah ada sejak ratusan tahun lalu dan memiliki keterkaitan dengan sejarah peradaban kuno di wilayah Mojokerto, yang dikenal sebagai kawasan penyangga Kerajaan Majapahit.

Secara historis, wilayah Kutorejo berada tidak jauh dari pusat-pusat peninggalan Majapahit. Oleh sebab itu, keberadaan Watu Gede dipercaya sebagai bagian dari jejak aktivitas masa lampau, baik sebagai penanda wilayah, tempat musyawarah, maupun simbol kekuatan dan kebesaran pada zamannya. Meski belum ditemukan catatan tertulis yang pasti, kisah tentang Selo Ageng terus hidup melalui cerita turun-temurun masyarakat setempat.

Nama Selo Ageng berasal dari bahasa Jawa yang berarti “batu besar”. Sejak dahulu, monumen ini dihormati dan dijaga oleh warga karena dianggap memiliki nilai sejarah serta kearifan lokal yang menjadi bagian dari identitas Kecamatan Kutorejo.

Saat ini, Watu Gede tidak hanya berdiri sebagai monumen sejarah, tetapi juga mulai dilirik sebagai potensi wisata sejarah dan edukasi. Letaknya yang strategis di pusat kecamatan membuatnya mudah diakses serta berpeluang dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis sejarah lokal.

Watu Gede (Selo Ageng), monumen bersejarah (Achmad Latifullah/Tunasnews.com)

Putra (34), warga Kutorejo, mengaku sejak kecil telah sering mendengar cerita tentang Watu Gede dari orang tua maupun tokoh masyarakat.

“Dari dulu Watu Gede ini sudah ada. Orang-orang tua sering bercerita kalau batu ini peninggalan zaman dulu yang berkaitan dengan sejarah Majapahit. Karena itu sampai sekarang tetap dijaga,” ujarnya, Selasa (30/12/2025).

Menurutnya, apabila sejarah Watu Gede dikemas dan disajikan dengan baik, monumen tersebut dapat menjadi sarana edukasi bagi generasi muda sekaligus daya tarik wisata.

“Kalau ada papan informasi sejarah atau penjelasan resmi, pengunjung tidak hanya melihat batu, tetapi juga memahami nilai sejarahnya,” tambahnya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih melalui penataan kawasan, pendokumentasian sejarah, serta penguatan narasi wisata, agar Monumen Watu Gede tetap lestari dan menjadi bagian penting dari jalur wisata sejarah Mojokerto.

(adm/tif)