Yang Tak Dibicarakan di Muktamar NU Tambakberas

Dr. Khoirul Umam,. SH. SE. MM

Di tengah riuh pembicaraan tentang kepemimpinan dan masa depan PBNU, ada satu kelompok yang jarang ditanya pendapatnya: warga NU yang setiap hari menjaga jam’iyah tetap hidup tanpa jabatan dan tanpa sorotan kamera.

JOMBANG – Muktamar Nahdlatul Ulama di Tambakberas akan melahirkan banyak cerita. Tentang forum tertinggi organisasi, keputusan-keputusan besar, arah kepemimpinan, hingga siapa yang dipercaya membawa NU memasuki babak berikutnya.

Tetapi ada cerita lain yang mungkin tidak banyak masuk headline, Cerita tentang orang-orang yang tidak duduk di ruang sidang, Mereka adalah santri yang membantu mengatur tempat. Banser dan relawan yang berjaga. Warga yang membuka pintu rumah. Ibu-ibu yang menyiapkan konsumsi. Petugas yang mengatur kendaraan. Hingga masyarakat sekitar yang harus menyesuaikan aktivitasnya karena ribuan orang datang ke Jombang.

Nama mereka mungkin tidak pernah disebut dalam sidang, Tetapi tanpa mereka, muktamar sebesar apa pun akan sulit berlangsung. Dan barangkali dari merekalah kita dapat melihat wajah NU yang sesungguhnya.

NU Tidak Hanya Hidup di Struktur,Ketika muktamar berlangsung, perhatian publik biasanya tertuju ke atas. Siapa yang memimpin? Siapa mendukung siapa? Bagaimana konfigurasi kekuatan? Siapa yang masuk struktur? Pertanyaan tersebut wajar. Kepemimpinan menentukan arah organisasi.

Tetapi NU tidak pernah menjadi besar hanya karena struktur. NU menjadi besar karena ada kiai kampung yang tetap mengajar meskipun tidak pernah masuk televisi. Karena ada guru madrasah yang tetap datang meskipun kesejahteraannya terbatas. Karena ada pengurus ranting yang mengurus kegiatan tanpa bertanya apakah namanya akan dicantumkan. Karena ada warga yang menyediakan kopi ketika rapat NU berlangsung sampai tengah malam. Dan karena jutaan orang tetap merasa dirinya bagian dari NU meskipun tidak mempunyai kartu nama organisasi. Merekalah pemegang saham moral terbesar Nahdlatul Ulama.

Sayangnya, suara kelompok terbesar ini justru sering menjadi suara yang paling kecil terdengar ketika organisasi sedang membicarakan masa depannya. Dari Siapa Menjadi Untuk Apa Karena itu, Muktamar Tambakberas seharusnya menjadi kesempatan mengubah pertanyaan.

Bukan berhenti pada: Siapa yang akan memimpin NU? Tetapi dilanjutkan dengan:Untuk apa kekuasaan organisasi sebesar NU akan digunakan?.Pertanyaan kedua jauh lebih berat. Sebab masyarakat tidak merasakan keputusan organisasi dari susunan nama pengurusnya..asyarakat merasakannya ketika anak mereka memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Ketika pesantren semakin mandiri. Ketika guru madrasah semakin sejahtera. Ketika petani memperoleh akses pasar. Ketika UMKM warga NU berkembang.Ketika anak muda nahdliyin mendapatkan pekerjaan.Ketika warga miskin memperoleh pendampingan hukum.Dan ketika NU hadir membela masyarakat saat mereka tidak mempunyai kekuatan untuk membela dirinya sendiri.

Di situlah ukuran khidmah menjadi konkret. Jangan Sampai NU Besar di Atas, tetapi Jauh di Bawah NU mempunyai jaringan luar biasa. Dari PBNU hingga ranting. Dari pesantren hingga perguruan tinggi. Dari lembaga pendidikan, rumah sakit, badan otonom, lembaga profesi hingga jaringan ekonomi. Potensi tersebut mungkin tidak dimiliki banyak organisasi lain di Indonesia.

Tetapi kebesaran selalu membawa risiko. Organisasi bisa begitu sibuk dengan dinamika di tingkat atas sehingga persoalan di tingkat bawah perlahan terdengar semakin jauh. Karena itu, setelah Muktamar Tambakberas, tantangannya bukan hanya membuat struktur PBNU yang kuat.

Tantangannya adalah membuat seorang warga NU di desa merasakan bahwa organisasi sebesar ini benar-benar mempunyai hubungan dengan kehidupannya.Jika NU kuat di Jakarta tetapi petani NU tetap berjalan sendiri, ada pekerjaan yang belum selesai. Jika NU mempunyai banyak lembaga tetapi guru madrasah masih kesulitan hidup layak, ada pekerjaan yang belum selesai. Jika jumlah warga NU sangat besar tetapi kekuatan ekonominya belum terorganisasi dengan baik, ada pekerjaan yang belum selesai.

Dan jika anak-anak muda NU lebih mengenal perdebatan elite daripada gagasan besar organisasinya, itu juga pekerjaan yang harus diselesaikan. Tambakberas Seharusnya Mengingatkan Pemilihan Tambakberas mempunyai makna yang tidak kecil. Pesantren mengajarkan sesuatu yang terkadang sulit ditemukan dalam hiruk-pikuk perebutan pengaruh: adab. Di pesantren, orang belajar bahwa ilmu tidak otomatis membuat seseorang lebih tinggi. Ada kiai yang harus dihormati. Ada guru yang harus dimuliakan.

Ada teman yang harus dihargai. Ada kepentingan pribadi yang terkadang harus diletakkan di belakang kepentingan bersama. Nilai seperti inilah yang justru dibutuhkan organisasi besar..Muktamar boleh menjadi arena berbeda pendapat. Pilihan boleh berbeda. Dukungan boleh berbeda. Tetapi setelah keputusan diketuk, NU harus kembali menjadi rumah bersama.

Karena harga terbesar dari sebuah kontestasi bukanlah kalah atau menang. Harga terbesarnya adalah apabila persaudaraan ikut hilang. Muktamar yang Sesungguhnya Dimulai Saat Tenda Dibongkar Pada akhirnya, semua muktamar mempunyai akhir yang hampir sama. Ketua terpilih. Pengurus dibentuk. Ucapan selamat berdatangan. Foto-foto beredar. Tamu pulang. Tenda dibongkar. Tambakberas kembali menjalani kehidupan pesantrennya.

Tetapi justru setelah itulah pekerjaan sebenarnya dimulai. Lima tahun berikutnya akan menjawab apakah muktamar hanya menghasilkan kepengurusan baru atau benar-benar menghasilkan arah baru. Warga NU mungkin tidak akan mengingat seluruh keputusan sidang. Mereka mungkin juga tidak menghafal siapa saja yang duduk dalam setiap struktur.

Tetapi masyarakat akan mengingat apakah NU hadir ketika mereka membutuhkan. Karena sejarah organisasi tidak hanya ditulis melalui keputusan besar. Sejarah juga ditulis melalui manfaat yang dirasakan orang kecil. Maka, dari sekian banyak pertanyaan yang akan muncul dari Muktamar NU di Tambakberas, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang pantas dibawa pulang oleh setiap peserta:

Setelah semua jabatan dibagikan, siapa yang akan mengurus mereka yang tidak mempunyai jabatan? Jika pertanyaan itu mampu dijawab dengan kerja nyata, Muktamar Tambakberas bukan hanya akan dikenang sebagai tempat lahirnya kepemimpinan baru.

Ia akan dikenang sebagai momentum ketika NU kembali menegaskan alasan paling mendasar mengapa jam’iyah ini didirikan: bukan untuk membesarkan orang-orang di dalamnya, tetapi untuk memperbesar manfaatnya bagi umat. (Adm)