Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto Bertambah, Korban Capai 780 Orang

Beberapa korban yang dilarikan ke Puskesmas Gondang (Achmad Latifullah/Tunasnews.com)‎

MOJOKERTO, Tunasnews.com — Kasus dugaan keracunan massal dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto terus bertambah dan menyoroti lemahnya pengawasan distribusi makanan sekolah. Hingga pendataan sementara terakhir, jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan tercatat mencapai 780 orang, berasal dari sekolah umum dan madrasah.

Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto mencatat sebanyak 533 korban berasal dari lima satuan pendidikan yang seluruhnya menerima menu MBG dari satu dapur penyedia yang sama, yakni SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 3 yang berlokasi di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo. Temuan tersebut memperkuat dugaan adanya persoalan pada rantai penyediaan makanan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto, Yoi’e Afrida Soesetyo Djati, menyampaikan bahwa dampak dugaan keracunan tidak hanya dialami siswa.

“Pendataan sementara dari lima lembaga menunjukkan terdapat 533 orang terdampak, terdiri atas siswa, guru, serta wali murid atau anggota keluarga siswa,” ujarnya.

Lima sekolah yang terdampak yakni SMPN 2 Kutorejo, SMP Al Hidayah, SDN Wonodadi 1, SDN Wonodadi 2, dan SDN Singowangi. Di antara sekolah tersebut, SMPN 2 Kutorejo menjadi lokasi dengan jumlah korban terbanyak.

Dari total 666 siswa penerima MBG di SMPN 2 Kutorejo, sebanyak 293 siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan dengan tingkat keparahan berbeda. Rinciannya, 164 siswa mengalami gejala ringan, 68 siswa bergejala sedang, dan 35 siswa harus menjalani perawatan inap. Dampak keracunan juga meluas ke lingkungan keluarga, dengan 26 anggota keluarga siswa turut terdampak.

Meski kondisi belum sepenuhnya pulih, Dinas Pendidikan memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Sekolah diminta memberikan kelonggaran akademik bagi siswa yang masih menjalani pemulihan.

“Kesehatan tetap menjadi prioritas. Proses belajar harus tetap berjalan, namun kejadian ini menjadi evaluasi bersama agar ke depan sekolah benar-benar aman bagi anak-anak,” tegas Yoi’e.

Sementara itu, Kementerian Agama Kabupaten Mojokerto mencatat 247 orang terdampak kasus serupa di lingkungan madrasah. Para korban dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu soto MBG yang dibagikan pada Jumat (9/1) di enam madrasah.

Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kabupaten Mojokerto, Masruchan, menyebut korban tidak hanya berasal dari kalangan siswa.

“Beberapa guru dan pengasuh turut mencicipi menu MBG, sehingga ikut terdampak,” katanya.

Enam madrasah yang terdampak meliputi RA Nurul Hidayah Wonodadi, MI Nurul Hidayah Wonodadi, MTs Ma’had Annur Singowangi, MTs Nurul Hidayah Wonodadi, MA TI Berlian Wonodadi, serta MA Ma’had Annur Singowangi.

Masruchan menambahkan, perbedaan waktu konsumsi MBG di setiap jenjang pendidikan menjadi salah satu catatan penting dalam penelusuran kasus.

“Di jenjang RA, makanan diterima dan langsung dikonsumsi sekitar pukul 09.00. Sementara di MTs dan MA, MBG umumnya baru dikonsumsi setelah pelaksanaan Salat Jumat,” jelasnya.

Hingga kini, para korban masih menjalani perawatan di 16 fasilitas kesehatan, mulai dari rumah sakit rujukan hingga puskesmas di wilayah Kabupaten Mojokerto. Pemeriksaan lanjutan terus dilakukan untuk memastikan sumber keracunan sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.

(adm/tif)