
MOJOKERTO, Tunasnews.com — Masjid Jami’ Al-Amiin berdiri megah di Dusun Kemiri, Desa Kedungsari, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Dari luar, bangunan masjid tampak anggun dengan menara tinggi yang menjulang, menciptakan kontras indah dengan langit malam. Sementara di bagian dalam, kemegahan semakin terasa melalui kubah besar bermotif langit biru, ornamen marmer, serta karpet hijau yang tertata rapi.
Masjid Jami’ Al-Amiin bukanlah bangunan baru sepenuhnya. Takmir Masjid Jami’ Al-Amiin, Sutekno (63), menyebutkan bahwa masjid tersebut merupakan bangunan lama yang kemudian direnovasi secara besar-besaran.
“Dulunya ini masjid lama, kemudian direnovasi oleh Pak Tulus,” ujar Sutekno.
Berdasarkan prasasti yang terpasang di lokasi, Masjid Jami’ Al-Amiin resmi diresmikan pada 1 Januari 2026 oleh H. Tulus Widodo. Proses pembangunan dan renovasi masjid ini memakan waktu sekitar lima tahun hingga akhirnya berdiri megah seperti saat ini.

Sutekno mengaku tidak mengetahui secara detail sejarah awal berdirinya masjid tersebut karena bukan warga asli Dusun Kemiri. Sebelumnya, ia bekerja sebagai tukang kayu sebelum dipercaya mengemban amanah sebagai takmir masjid.
“Saya bukan warga asli sini. Dulu saya bekerja sebagai tukang kayu. Tiba-tiba saya ditelepon Pak Tulus dan diminta menjadi takmir di masjid ini,” tuturnya.
Masjid Jami’ Al-Amiin dirancang dengan fungsi yang beragam. Lantai paling bawah digunakan untuk berbagai kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat, seperti terbangan, diba’an, serta kegiatan kemasyarakatan lainnya. Adapun ruang utama untuk salat berada di lantai dua dan tiga yang dirancang luas dan nyaman bagi jamaah.
Keistimewaan masjid ini juga terlihat dari detail interiornya. Salah satunya adalah penggunaan karpet yang didatangkan langsung dari Turki, yang menambah kesan mewah sekaligus mendukung kekhusyukan jamaah saat beribadah.

Sejak renovasi selesai, antusiasme masyarakat untuk beribadah di Masjid Jami’ Al-Amiin meningkat signifikan. Tidak hanya warga sekitar, jamaah dari luar daerah juga banyak berdatangan.
“Setelah masjid ini direnovasi, antusiasme warga untuk beribadah semakin meningkat,” kata Sutekno.
“Banyak juga jamaah dari luar kota, seperti Sidoarjo dan Bojonegoro,” imbuhnya.
Bahkan, menurut Sutekno, masjid ini pernah dikunjungi jamaah secara rombongan dengan cara yang tidak biasa.
“Dulu pernah ada rombongan jamaah yang datang ke sini naik sepur kelinci,” kenangnya sambil tersenyum.
Kini, Masjid Jami’ Al-Amiin tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga ikon baru bagi Dusun Kemiri. Keindahan arsitektur serta ramainya aktivitas keagamaan menjadi bukti bahwa masjid ini hidup kembali sebagai pusat spiritual dan kebersamaan umat.
(adm/tif)
