Bukan Sekadar Monumen, Patung Buaya Putih Jadi Simbol Pelindung Desa Kedungsari

Patung Buaya Putih Di Desa Kedungsari, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto (Achmad Latifullah/Tunasnews.com)‎‎

MOJOKERTO, Tunasnews.com — Sebuah monumen unik berupa Patung Buaya Putih berdiri kokoh di simpang jalan penghubung Kabupaten Mojokerto dan Jombang, tepatnya di Desa Kedungsari, Kecamatan Kemlagi. Patung ini bukan sekadar penanda wilayah, melainkan simbol yang berakar kuat pada legenda dan kepercayaan masyarakat setempat.

Patung Buaya Putih dibangun sekitar tahun 2015 atas inisiatif warga desa sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok yang diyakini sebagai pelindung Desa Kedungsari. Buaya putih tersebut dipercaya sebagai jelmaan Mbah Soro, tokoh leluhur yang dikenal dalam cerita babat alas dan memiliki peran penting dalam sejarah awal pemukiman desa.

Menurut penuturan warga, pada masa lalu sering terlihat kemunculan buaya berwarna putih di aliran Sungai Brantas yang melintas tak jauh dari desa. Meski jarang menampakkan diri dan tidak pernah mengganggu, keberadaan buaya tersebut diyakini membawa ketentraman, terutama ketika aktivitas penambangan pasir dan transportasi sungai masih berlangsung.

Kepercayaan itu kemudian mendorong warga mendirikan monumen buaya putih di pertigaan jalan desa. Hingga kini, monumen tersebut dirawat secara swadaya dan menjadi salah satu ikon Desa Kedungsari.

Selain berfungsi sebagai landmark, Patung Buaya Putih juga memiliki makna kultural. Warga kerap mengaitkannya dengan tradisi lokal. Saat menggelar hajatan, sedekah bumi, atau kegiatan adat lainnya, sebagian warga melakukan permohonan izin secara simbolis di sekitar tugu dengan harapan acara berjalan lancar.

Tak jauh dari lokasi monumen, terdapat punden petilasan Mbah Soro yang dianggap sakral. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, punden dan Patung Buaya Putih memiliki keterkaitan spiritual yang tidak terpisahkan.

“Patung Buaya Putih ini sudah menjadi bagian dari identitas desa kami. Bukan hanya patung, tetapi simbol pelindung yang dipercaya turun-temurun,” ujar Sukiman, warga Desa Kedungsari.

Ia menuturkan, sebelum monumen didirikan, kawasan pertigaan tersebut kerap terjadi kecelakaan dan kejadian yang dianggap tidak wajar. Hal itulah yang melatarbelakangi pembangunan tugu sebagai bentuk ikhtiar dan penghormatan terhadap leluhur.

“Sejak ada Patung Buaya Putih, suasana terasa lebih aman. Banyak warga percaya itu bentuk perhatian leluhur kepada desa,” tambahnya.

Kini, Patung Buaya Putih tidak hanya menjadi penanda wilayah atau objek legenda, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat Desa Kedungsari yang merepresentasikan nilai sejarah lokal, tradisi, serta kearifan budaya Jawa dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan leluhur.

(adm/tif)