
MOJOKERTO, Tunasnews.com — Sebuah Gapura Paduraksa setinggi 17 meter berdiri megah di Desa Tinggarbuntut, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. Gapura ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda wilayah, tetapi juga merepresentasikan nilai persatuan, spiritualitas, serta penghormatan terhadap sejarah peradaban Nusantara.
Gapura Paduraksa tersebut dibangun pada 2023 dan rampung dalam kurun waktu sekitar satu tahun. Menurut Nurkolis (60), salah satu tokoh setempat, arsitektur gapura ini mengusung konsep perpaduan tiga peninggalan candi Kerajaan Majapahit, yakni Candi Wringin Lawang, Candi Brahu, dan Candi Bajang Ratu.
“Ini dinamakan Gapura Paduraksa. Konsepnya merupakan gabungan dari tiga candi peninggalan Majapahit,” ujar Nurkolis saat ditemui di lokasi.
Secara historis, Gapura Paduraksa merupakan jenis gapura beratap tertutup yang dalam tradisi Hindu-Buddha berfungsi sebagai pintu masuk menuju kawasan suci, seperti candi, keraton, atau pusat pemerintahan. Gapura ini menjadi simbol peralihan dari ruang profan menuju ruang sakral.
Keunikan gapura tersebut tidak hanya terletak pada bentuk dan ukurannya, tetapi juga pada proses pembangunannya yang dilakukan dengan laku spiritual tertentu. Nurkolis menjelaskan, pengerjaan gapura dilakukan setiap hari hanya selama satu jam pada malam hari.
“Pengerjaannya tidak sembarangan. Setiap hari hanya satu jam, mulai pukul 22.00 hingga 23.00 WIB,” katanya.
Selama proses pembangunan, para pekerja diwajibkan menjaga keheningan dan kesucian diri. Mereka tidak diperbolehkan berbicara, makan, maupun minum, dan hanya diperkenankan berdzikir selama bekerja.
“Semua harus dalam keadaan suci. Tidak boleh bicara, makan, atau minum,” ungkapnya.
Setelah satu jam pengerjaan selesai, para pekerja baru diperbolehkan minum. Air yang digunakan pun berasal dari Petirtaan Jolotundo, situs pemandian kuno di lereng Gunung Penanggungan yang dibangun pada abad ke-10 dan hingga kini dipercaya sebagai air suci.
Pada bagian tubuh gapura, terdapat dua ornamen macan yang memiliki makna simbolis. Menurut Nurkolis, kedua simbol tersebut melambangkan dua kekuatan besar dalam sejarah Nusantara.
“Dua macan itu melambangkan Siliwangi dan Majapahit,” jelasnya.
Siliwangi merujuk pada Prabu Siliwangi, raja besar Kerajaan Pajajaran yang menjadi simbol kejayaan budaya Sunda. Sementara Majapahit dikenal sebagai kerajaan besar yang menjadi fondasi persatuan wilayah Nusantara.
Perpaduan arsitektur candi, simbol historis, serta proses pembangunan yang sarat nilai spiritual menjadikan Gapura Paduraksa di Desa Tinggarbuntut tidak sekadar bangunan fisik, melainkan monumen budaya yang merefleksikan sejarah, spiritualitas, dan semangat persatuan.
(adm/tif)
