
MOJOKERTO, Tunasnews.com — Di tengah rimbunnya kebun bambu Dusun Kaligoro, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, terdapat sebuah sumber mata air yang hingga kini terus mengalir tanpa henti. Sumber air tersebut berada di kawasan Makam Mbah Buyut, yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai tempat peristirahatan para tokoh awal pembabat Desa Kaligoro.
Kawasan makam ini terdiri dari empat pusara tanpa identitas nama pada batu nisan. Meski demikian, warga secara turun-temurun menyebutnya sebagai Makam Mbah Buyut, istilah untuk menyebut para sesepuh desa yang dipercaya berjasa dalam membuka dan membangun wilayah tersebut.
Ari, warga setempat yang kerap membantu pengunjung, mengatakan bahwa identitas pasti keempat makam itu memang tidak diketahui. Namun, kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan para leluhur tetap terjaga hingga kini.
“Dari cerita orang-orang terdahulu, makam ini diyakini sebagai makam para sesepuh desa. Namanya memang tidak tercatat, tetapi perannya sangat dihormati warga,” ujar Ari, Jumat (23/1/2026).

Menurut Ari, kawasan makam telah lama dikenal masyarakat. Namun, keberadaan sumber mata air baru diketahui pada 2018. Awalnya, lokasi tersebut hanya berupa gundukan tanah berbatu yang kemudian digali secara gotong royong oleh warga.
“Dulu belum ada mata airnya, hanya tanah berbatu. Setelah digali sekitar satu minggu, ternyata keluar air cukup deras dan tidak pernah kering,” ungkapnya.
Sumber mata air tersebut memiliki kedalaman sekitar empat meter dan kini berada di dalam bangunan tertutup demi keamanan pengunjung. Airnya tampak jernih dan terus mengalir sepanjang tahun, termasuk saat musim kemarau.
Keunikan lain yang dirasakan pengunjung, lanjut Ari, adalah perubahan suhu air.
“Banyak yang mengatakan kalau pagi hari airnya terasa dingin, sedangkan malam hari justru hangat. Hal ini yang membuat sebagian orang meyakini air tersebut memiliki khasiat bagi kesehatan,” katanya.
Di sekitar lokasi sumber air telah disediakan fasilitas kamar mandi. Selain itu, terdapat pancuran khusus yang dimanfaatkan pengunjung untuk mengambil air minum dan dibawa pulang.
Keyakinan akan manfaat air tersebut membuat lokasi ini ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, seperti Mojokerto, Jombang, dan Surabaya. Bahkan, pengunjung juga datang dari luar pulau, antara lain Bali, Kalimantan, Sumatera, hingga Papua.
“Pengunjungnya beragam. Ada yang sekadar berziarah, ada pula yang khusus datang untuk mengambil air. Biasanya paling ramai saat Kamis Kliwon karena ada kegiatan rutin seperti pengajian,” pungkas Ari.
(adm/tif)
