
MOJOKERTO, Tunasnews.com — Di tengah permukiman warga Desa Losari, Dusun Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, berdiri sebuah kompleks pondok pesantren yang menyimpan kisah spiritual unik. Pondok Pesantren Sambung Sari Noto Projo dikenal bukan karena pengajaran kitab klasik, melainkan karena tradisi tirakat dan laku spiritual yang menjadi inti pendidikannya.
Pondok yang berdiri sejak sekitar tahun 1990-an ini awalnya merupakan pondok tirakatan. Salah satu ciri khasnya adalah keberadaan goa buatan yang terletak di bawah tanah dan berada tepat di bawah bangunan masjid.
“Bangunan ini dibangun sekitar tahun 90-an. Dulu asalnya memang pondok tirakatan, jadi goa itu dibuat khusus untuk tirakat,” ujar Muhammad Abdul Wahab Said, putra pendiri pondok.
Goa tersebut digali secara manual oleh para santri dengan kedalaman sekitar tujuh hingga sembilan meter. Fungsinya bukan sekadar simbol, melainkan benar-benar digunakan sebagai tempat menyepi dan perenungan diri.
“Kedalamannya sekitar 7 sampai 9 meter. Dulu dipakai untuk tirakat. Ada yang masuk dan tidak keluar sampai tiga hari,” katanya.
Menurut Wahab, kondisi di dalam goa sengaja dibuat sempit dan dikelilingi tanah agar menghadirkan suasana kontemplatif yang mengingatkan pada kematian.
“Di bawah itu rasanya seperti di dalam kuburan, diapit tanah. Tujuannya supaya ingat kematian,” ujarnya.
Selain pondok, kompleks tersebut juga memiliki masjid yang sejak awal digunakan masyarakat sekitar untuk pelaksanaan salat Jumat.
“Masjid ini memang dibuat untuk masyarakat sekitar, fungsinya sama seperti masjid pada umumnya,” tutur Wahab.
Masjid itu diberi nama Masjid Wisnu Manunggal Rohmatulloh, nama yang memadukan unsur Jawa dan Arab. Penamaan tersebut mencerminkan filosofi pondok yang menggabungkan nilai kearifan lokal dengan spiritualitas Islam.
“Nama pondok Sambung Sari Noto Projo itu bahasa Jawa. Artinya menyambung sari-sari ilmu Allah untuk menata projo, projo itu badan,” jelasnya.

Berbeda dengan pesantren pada umumnya, Pondok Sambung Sari Noto Projo tidak mengajarkan pendidikan diniyah maupun kitab kuning seperti nahwu dan sorof. Sistem pendidikannya lebih menitikberatkan pada praktik laku spiritual.
“Kalau pondok lain mengajarkan diniyah atau nahwu sorof, di sini tidak. Di sini fokusnya tirakat, jadi bisa dibilang pondok laku,” ungkapnya.
Jumlah santri di pondok ini pun relatif sedikit dan tidak pernah banyak sejak awal berdiri.
“Santrinya paling sekitar 15 orang. Kadang 10, bahkan pernah hanya 5,” kata Wahab.
Seluruh bangunan pondok, termasuk masjid dan goa, dibangun secara swadaya oleh para santri dengan segala keterbatasan yang ada.
“Semua bangunan ini dibangun oleh anak-anak sendiri. Jadi memang apa adanya,” ujarnya.
Seiring waktu, praktik tirakat ekstrem di pondok ini tidak lagi seaktif dahulu. Meski demikian, keberadaan pondok tetap dipertahankan sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang pernah tumbuh di Mojokerto.
“Sekarang tidak seperti dulu. Bangunannya bisa dibilang baru, tapi karena dibangun sendiri oleh santri, ya seadanya,” tutup Wahab.
Pondok Sambung Sari Noto Projo memiliki keterkaitan erat dengan tokoh spiritual kharismatik Jawa Timur, Gus Maksum. Pendiri pondok diketahui merupakan murid langsung dari Gus Maksum.
“Dulu yang meresmikan pondok ini langsung Gus Maksum, karena bapak memang murid beliau,” ungkap Wahab.
Gus Maksum dikenal luas sebagai ulama yang menekankan kedalaman batin, tirakat, dan disiplin spiritual sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah. Jejak ajaran dan spiritualitasnya masih terasa kuat dalam tradisi Pondok Sambung Sari Noto Projo hingga kini.
(adm/tif)
