
MOJOKERTO, Tunasnews.com — Sebuah jalan lingkungan di Dusun Jurangsari, Desa Belahantengah, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, menyimpan nama yang sarat nilai sejarah. Jalan tersebut bernama Jalan Tribuana Tungga Dewi, diambil dari nama tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Majapahit.
Sekilas, jalan ini tampak seperti jalan kampung pada umumnya. Aspal beton membentang lurus, diapit rumah-rumah warga, pepohonan peneduh, serta aktivitas masyarakat yang berlangsung tenang. Namun, papan nama jalan itu menyimpan cerita sejarah yang jauh melampaui suasana keseharian warganya.
Penamaan Jalan Tribuana Tungga Dewi diyakini sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan sejarah Majapahit. Hal ini sejalan dengan Mojosari yang dikenal berada di kawasan budaya dan sejarah kerajaan besar tersebut. Nama itu dipilih untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sosok pemimpin perempuan yang berperan besar dalam kejayaan Majapahit.
Tribuana Tungga Dewi merupakan Ratu Majapahit yang memerintah pada abad ke-14. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan visioner, serta merupakan ibu dari Raja Hayam Wuruk. Pada masa pemerintahannya, Majapahit mulai berkembang pesat dan menata kekuatan politiknya, termasuk dengan munculnya Mahapatih Gajah Mada.
Bagi warga setempat, nama jalan tersebut bukan sekadar penanda lokasi, melainkan juga simbol kebanggaan. Susilo (63), salah seorang warga yang telah lama tinggal di kawasan itu, mengatakan nama jalan tersebut sudah ada sejak ia kecil.
“Sejak saya ingat, namanya sudah Jalan Tribuana Tungga Dewi. Katanya supaya orang-orang di sini tetap ingat sejarah Majapahit. Meski jalannya kecil, tapi membawa nama besar. Itu yang bikin bangga,” ujar Susilo.
Keberadaan nama-nama bersejarah pada jalan-jalan kampung seperti ini menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk prasasti atau bangunan megah. Sejarah juga dapat hidup dalam keseharian warga, melalui nama jalan yang setiap hari dilalui, disebut, dan diingat.
Di tengah perkembangan zaman dan perubahan fisik wilayah, Jalan Tribuana Tungga Dewi menjadi pengingat bahwa Mojosari tidak hanya tumbuh sebagai kawasan permukiman, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan jejak panjang peradaban Nusantara.
(adm/tif)
