Kualitas MBG Purwotengah Disorot Usai Ratusan Porsi Dikembalikan, Pengelola Akui Ada Kesalahan Teknis

Tumpukan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mau dikembalikan oleh sekolah setelah tercium bau kecut (Achmad Latifullah/Tunasnews.com)

MOJOKERTO, Tunasnews.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mendapat sorotan setelah sejumlah sekolah di Kota Mojokerto mengembalikan paket makanan karena tercium bau kecut. SD Muhammadiyah Plus di Jalan Taman Siswa menjadi salah satu yang paling awal melaporkan temuan tersebut.

Kepala SD Muhammadiyah Plus, Rosdliyah, menjelaskan dugaan kerusakan menu bermula ketika seorang guru mencoba kuah bakso yang dikemas dalam cup plastik. Menu hari itu terdiri atas bakso, nasi, mie, tahu putih, dan jeruk.

“Guru mencicipi kuah bakso yang dimasukkan ke cup plastik. Setelah dicicipi memang rasanya agak kecut. Sudah ada beberapa siswa yang makan, tapi tidak sampai habis,” ujar Rosdliyah.

Mengetahui kondisi itu, pihak sekolah segera menghubungi pengelola SPPG dan Dinas Pendidikan Kota Mojokerto, sekaligus menghentikan konsumsi makanan oleh siswa.

Menurut Rosdliyah, makanan yang tidak disentuh siswa akhirnya menumpuk di pendapa sekolah. Saat wadah ompreng dibuka sedikit, aroma masam langsung tercium.

“Banyak yang tidak dimakan. Kata pengelola besok diganti dengan menu keringan, jadi besok dobel. Ada 299 siswa yang menerima MBG,” jelasnya.

Menu MBG untuk sekolah tersebut diketahui disuplai oleh SPPG Purwotengah. Sejumlah sekolah lain yang menerima distribusi dari titik yang sama, seperti TK Bhayangkari, SDN Gedongan 1, dan SD Katolik, juga dilaporkan mengalami keluhan serupa.

Pengelola SPPG Purwotengah, Heri Kiswanto, mengakui adanya kesalahan teknis dalam penanganan menu berkuah.

“Iya, mohon maaf. Itu menunya kuah dan bakso dicampur terus masih panas lalu ditutup. Penyebab kecutnya di situ. Harusnya bakso dan kuah dipisah,” terang Heri.

Heri menyebut beberapa sekolah menyampaikan komplain dan memastikan akan memberikan penggantian menu.

“Besok diganti, keringan dua dan makanan ringan satu. Tadi saya tawarkan pengganti hari ini tapi tidak mau, mintanya keringan besok,” ujarnya.

Ia juga mengakui distribusi hari itu terlambat dan menyampaikan bahwa ahli gizi telah melakukan pengecekan ke sejumlah sekolah terdampak.

“Tadi ahli gizi juga sudah datang ke sekolah-sekolah yang komplain. Intinya kami minta maaf,” tutupnya.

(adm/tif)