
Mojokerto — Di tengah dominasi industri besar yang kian menguasai pasar, para peternak itik Mojosari kini menghadapi masa sulit. Salah satunya Iwan, peternak asal Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, yang menceritakan perjalanan panjang keluarganya dalam usaha ternak itik yang telah berlangsung lebih dari empat dekade.
“Mulai ternak sudah dari zaman orang tua, sekitar tahun 1980-an sampai sekarang generasi kedua,” tutur Iwan, Selasa (28/10/2025). Ia mengenang masa ketika Mojosari dikenal sebagai sentra utama penghasil itik unggulan di Jawa Timur. “Meneng di sini jadi ikonnya itik Mojosari,” ujarnya.
Itik Mojosari sendiri dikenal sebagai salah satu ras lokal dengan produktivitas telur tinggi serta daya tahan tubuh yang kuat. “Itik Mojosari itu salah satu ras itik lokal unggulan,” jelasnya. Menurut Iwan, dulu pasar mereka sangat bergairah. “Dari dulu, di sini pusatnya pasar itik,” kenangnya.

Namun, kejayaan itu kini mulai memudar. Iwan mengungkapkan, puncak produksi peternakan itik terjadi pada awal tahun 2000-an. “Dari tahun 2000-an itu mulai meroket,” katanya. Tetapi situasi berbalik drastis setelah pandemi Covid-19. “Sehabis Covid, dari tahun ke tahun menurun. Untuk tahun ini ambles,” keluhnya.
Persaingan pun semakin keras. Peternak kecil kini tidak hanya bersaing antar-daerah, tetapi juga harus berhadapan dengan perusahaan besar. “Pesaingannya sekarang bukan sama daerah penghasil ternak lain, tapi sama pabrikan,” ungkapnya.
Menurut Iwan, banyak pabrik yang kini memproduksi DOD (Day Old Duck) atau bibit itik secara massal. Kondisi ini membuat pasar jenuh dan peternak kecil kehilangan ruang. “Efeknya karena overpopulasi, di sini kalah saing dengan pabrikan,” jelasnya.
Dampaknya, penurunan produksi sangat terasa. “Tahun ini anjlok sekitar 70 persen, sementara harga pakan juga naik,” ujarnya.
Meski begitu, Iwan tetap berharap pemerintah dapat turun tangan membantu peternak kecil. “Harapan kami, pemerintah bisa membuat kebijakan yang adil, mengatur antara pabrik dan industri rumahan,” pungkasnya.
Dari balik kandang sederhana di Mojosari, suara Iwan menjadi gambaran nyata perjuangan peternak lokal yang berusaha mempertahankan warisan turun-temurun—warisan yang dulu menjadi kebanggaan, kini nyaris tenggelam di tengah gelombang industri besar. Admin/tif
