
MOJOKERTO, Tunasnews.com — Inovasi sederhana namun sarat makna ini telah melewati lintas generasi. Sejak tahun 1983, Slamet (56), warga Kota Mojokerto, konsisten memanfaatkan ban bekas menjadi tong sampah fungsional dan ramah lingkungan.
“Saya sudah dari 1983 membuat kreasi tersebut,” ujarnya, Kamis (9/10/2025).
Ide itu muncul dari keinginan Slamet menata lingkungan agar lebih bersih dengan biaya terjangkau. Ban mobil bekas yang seharusnya menjadi limbah, ia sulap menjadi tong sampah kuat dan tahan lama. Dari dua ban bekas, Slamet mampu menghasilkan tiga buah tong sampah yang siap pakai.
“Dua ban mobil jadi tiga tong sampah,” katanya. “Kalau biasanya kebanyakan, sampah ini bertahan lebih dari satu tahun,” sambungnya.
Hasil karya Slamet diminati berbagai kalangan. Pemesannya datang dari lingkungan RT, sekolah, hingga perumahan, bahkan ada juga pembeli perorangan.

“Biasanya yang pesan dari RT, sekolahan, perumahan, terkadang juga ada yang beli satuan,” ujarnya.
Harga tong sampah buatannya dibanderol antara Rp60.000 hingga Rp100.000 per unit. Slamet menjual hasil kreasinya di stand miliknya di Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
Di tengah gempuran modernisasi dan munculnya tong sampah plastik berwarna-warni, karya Slamet tetap bertahan. Tong sampah dari ban bekas kini menjadi simbol kearifan lokal dan semangat menjaga lingkungan.
Bagi warga Mojokerto, keberadaannya bukan sekadar tempat membuang sampah, tetapi juga warisan kepedulian terhadap kebersihan yang lahir dari tangan kreatif seorang warga biasa. (tif)
