Hujan Deras dan Angin Kencang Sapu Mojokerto: Ketika Langit Gelap Menguji Ketangguhan Warga

Pohon tumbang di halaman SMAN 2 Kota Mojokerto (Achmad Latifullah/Tunasnews.com)

MOJOKERTO, Tunasnews.com — Langit Mojokerto sore itu mendadak menghitam. Sekitar pukul 15.15 WIB, angin mulai berembus pelan, membawa hawa lembap dan dingin. Tak lama berselang, hujan deras mengguyur tanpa ampun. Dalam hitungan menit, suara gemuruh angin bergabung dengan dentuman ranting patah dan gelegar petir — pertanda datangnya cuaca ekstrem yang jarang terjadi seintens ini.

Di sepanjang Jalan Benteng Pancasila, pengendara motor terpaksa menepi, berlindung di bawah atap toko dan pohon yang masih berdiri tegak. Namun tak semua pohon kuat bertahan. Beberapa tumbang, menutup sebagian badan jalan dan memicu kemacetan mendadak.

Di lingkungan SMA Negeri 2 Kota Mojokerto, suasana berubah panik ketika angin kencang menerpa halaman sekolah. “Tiba-tiba anginnya keras sekali, semua anak berlari ke dalam kelas,” tutur Rafi, salah satu siswa, sambil menatap reruntuhan ranting di depan gerbang sekolah.

Tak jauh dari sana, di area SMKN 2 Kota Mojokerto, sebuah pohon besar tumbang tepat di area parkir. Tiga sepeda motor milik siswa tertimpa batangnya. Beruntung, kejadian berlangsung saat jam pelajaran sehingga tidak ada korban jiwa. “Kami hanya dengar suara keras seperti ledakan, ternyata pohon roboh,” kata Siti, guru di sekolah tersebut.

Warga di beberapa titik Kecamatan Gedeg dan Kemlagi juga merasakan terjangan angin yang tak biasa. Beberapa rumah mengalami kerusakan ringan, genting beterbangan, dan atap seng terlepas. Di tengah kondisi itu, warga saling membantu membersihkan jalan dan memotong ranting pohon yang menghalangi akses.

Menjelang malam, petugas gabungan dari BPBD, DLH, dan Dinas Perhubungan Kota Mojokerto terus berjibaku mengevakuasi pohon tumbang. Lampu-lampu kendaraan patroli menyala di antara genangan air dan dedaunan basah, menjadi tanda bahwa pemulihan sedang dilakukan.

Pohon tumbang di Jalan Benteng Pancasila (Foto: Istimewa)

Cuaca ekstrem hari itu menjadi pengingat betapa rentannya kota ini terhadap perubahan iklim. Namun, di balik kepanikan dan kerusakan yang terjadi, ada solidaritas warga yang tumbuh — saling membantu, mengevakuasi, dan menjaga satu sama lain di tengah badai yang melanda.