Ming. Apr 5th, 2020

tunasnews.com

Tajam,Kredibel dan Berimbang

Fakta-fakta Belanja Barang Impor Kena Pajak yang Harus Kamu Tahu

2 min read

Foto Istimewa

Jakarta (Tunasnews.com) – Suka beli barang-barang impor? Siap-siap untuk merogoh kocek lebih dalam lagi. Karena Ditjen Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan akan menurunkan batasan (threshold) bea masuk dan pajak untuk barang kiriman. Artinya produk luar negeri bisa saja bakal jadi lebih mahal. Sebelum memutuskan untuk beli tas, sepatu, skincare, atau merchandise dari brand luar, pelajari dulu fakta-fakta belanja barang impor kena pajak yang harus kamu tahu.

Kena Pajak
Telah ditetapkan bahwa bea masuk dan pajak barang kiriman dari luar negeri bisa jadi naik karena batasannya diturunkan. Sebelumnya, barang bebas bea masuk maksimal adalah US$ 75 atau Rp 1.050.000. Tapi aturan barang impor baru menurunkannya menjadi US$ 3 atau Rp 45.000. Jadi, barang dengan harga di atas Rp 45 sudah dikenakan bea masuk. Ini hanya berlaku untuk kiriman langsung bukan hand carry.

Perhitungannya
Kepala Subdirektorat Jenderal (Kasubdit) Humas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kemenkeu Deni Surjantoro menjelaskan skema perhitungan pengiriman barang dari luar negeri beserta bea masuk dan pajak-pajaknya.

Ada beberapa unsur dalam perhitungan bea masuk barang kiriman. Pertama hitung nilai dasar pengenaan bea masuk yang terdiri dari harga barang (cost) + nilai asuransi (insurance) + ongkos kirim (freight) atau biasa disebut nilai CIF.

“Kemudian CIF itu dikalikan dengan tarif bea masuk itu 7,5%, kecuali tas, sepatu dan garmen,” terang Deni .

Alasannya
Menurut penjelasan akun resmi Twitter Ditjen Bea dan Cukai alasan kebijakan pajak barang impor dibuat lantaran semakin besarnya pake kiriman dari luar negeri. Pada 2019 sudah tercatat sebanyak 49,69 juta paket kiriman dari luar negeri. “Ini meningkat tajam dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 19,57 juta paket pada tahun 2018,” terang admin @beacukaiRI.  
Banyaknya paket kiriman barang dari luar negeri ditakutkan akan membahayakan sejumlah industri dalam negeri yang guling tikar terutama produsen tas, sepatu, dan tekstil. “Karena itulah pemerintah harus mengambil langkah untuk melindungi industri dalam negeri. Kita ga mau kan Indonesia kebanjiran barang impor?” tulisnya.

Tarif Beda
Namun perhitungan seberapa besar kenaikan barang impor yang kena pajak ini bisa berbeda-beda sesuai jenisnya. Dikatakan jika pemerintah memberikan tarif bea masuk yang berbeda untuk produk tas, sepatu dan tekstil yakni 15-20% untuk tas, 25-30% untuk sepatu, dan 15-25% tekstil.

Kecuali Buku
Beruntung Anda para kutu buku karena buku bukan termasuk barang yang kena tarif impor. Dikatakan jika impor buku memang dibebaskan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh). Jadi, tidak ada pungutan khusus baik bea masuk dan pajak impor untuk buku.

Berlaku Sebentar Lagi
Jika kamu berniat beli barang impor dalam waktu dekat sebaiknya segera dipercepat. Karena aturan baru bea masuk dan pajak produk impor akan berlaku mulai awal tahun 2020.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber :(Detikcom)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.