Ming. Apr 5th, 2020

tunasnews.com

Tajam,Kredibel dan Berimbang

4 Cara Mengasah Kemampuan Anak untuk Mengendalikan Diri

3 min read

Foto Istimewa

(Tunasnews.com) – Anak yang tidak bisa mengendalikan dirinya dengan baik pasti memiliki masalah dalam berperilaku. Contohnya,  anak usia 6 tahun yang mungkin akan memukul atau melempar sesuatu jika apa yang diinginkannya tidak terpenuhi. Jika tidak ditangani, perilaku tersebut akan semakin bertambah buruk seiring waktu. Apa yang harus orangtua lakukan supaya anak mampu mengendalikan diri? Berikut tipsnya.

Mendidik anak agar mampu mengendalikan diri

Membantu anak untuk mengendalikan diri berarti melatih anak untuk berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu. Tindakan ini mendorong anak supaya mampu membedakan mana perilaku yang baik dan buruk, mana yang pantas dilakukan dan tidak.

Dilansir dari Live strong , anak sudah bisa mempelajari pengendalian emosi dan memikirkan apa risiko dari sebuah tindakan antara usia 2 sampai 5 tahun. Tentu hal ini tidak akan mudah, jadi orangtua perlu menerapkan beberapa cara berikut ini supaya anak mampu mengendalikan diri mereka.

1. Ajari anak untuk memahami berbagai emosi

Foto Istimewa

Anak-anak belum sepenuhnya memahami berbagai emosi yang mereka rasakan sehingga masih kesulitan untuk mengatur emosi mereka. Sebagian besar anak yang belum mengerti inilah yang biasanya cenderung impulsif alias bertindak tanpa pikir panjang.

Untuk itu, Anda perlu mengajarkan anak untuk mengenali berbagai macam emosi seperti marah, takut, sedih, senang, kesal, dan lain sebagainya.

Kemudian, beri tahu anak bahwa tidak apa-apa bila merasa marah, tapi tidak baik jika melampiaskannya dengan memukul atau melempar sesuatu kepada orang lain. Anda bisa mengatakan, “Kalau kamu marah, jangan memukul orang, ya. Dipukul itu rasanya sakit. Kamu nggak mau, kan, kalau sakit?”

2. Ajari anak untuk memecahkan masalah

Foto Istimewa

Mengajari anak untuk memecahkan masalah adalah cara yang paling tepat untuk mengendalikan diri. Caranya dengan memberi anak waktu sebentar untuk berpikir kemudian putuskan tindakan apa yang sebaiknya dilakukan. Anda bisa mengajari hal ini melalui permainan yang melibatkan gerakan tubuh.

Permainannya cukup sederhana, Anda hanya perlu menginstruksikan pada anak untuk memeragakan gerakan hewan misalnya, sesuai dengan alunan musik. Namun saat musik berhenti, gerakan anak harus berhenti atau membeku pada gerakan terakhir yang diperagakannya.

Anda tidak perlu khawatir jika tidak dapat melakukan permainan ini. Banyak pendidikan prasekolah yang mengembangkannya, jadi Anda hanya perlu mengawasi. Walaupun terlihat sederhana, ternyata permainan ini mampu meningkatkan dopamin, norepinefrin, dan serotonin pada otak yang  membantu anak untuk fokus sehingga mengurangi tindakan yang hiperaktif dan impulsif.

3. Beri tahu aturan atau batasan perilaku

Foto Istimewa

Memberi tahu anak pada aturan-aturan tertentu bisa membantu anak untuk berpikir dahulu dalam melakukan sesuatu. Namun, jangan lupa aturan tersebut harus Anda jelaskan. Kenapa peraturan itu dibuat dan apa risikonya bila melanggar.

Misalnya, tidak boleh buang sampah sembarangan karena sampahnya bisa mengotori lingkungan dan menjadi sumber penyakit. Berikan juga apresiasi, berbentuk pujian atau hadiah kecil jika anak menaati peraturan dan berbuat baik.

4. Jadi teladan buat anak

Foto Istimewa

Anak mempelajari semua hal dari orang-orang di sekitarnya, terutama Anda sebagai orangtuanya. Memberikan contoh perilaku yang baik akan mengasah kemampuan anak dalam memutuskan suatu tindakan.

Perlihatkan setiap masalah yang Anda hadapi dan bagaimana cara memecahkan solusinyaMisalnya Anda kecewa karena anak tidak mau menghabiskan makanannya. Ajak anak bicara baik-baik, jangan langsung dimarahi atau dibentak karena nanti anak akan menirunya. Temani anak untuk menghabiskan makannya, meskipun butuh waktu lama. Tanpa Anda sadari, anak secara alami akan mengikuti apa yang Anda lakukan.

 

 

 

 

 

 

 

Sumber :(Hellosehat.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.