Ming. Apr 5th, 2020

tunasnews.com

Tajam,Kredibel dan Berimbang

Novel Baswedan Singgung Penyiraman Air Keras di Sidang PBB

2 min read

Foto Istimewa

Tunasnews.com – Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menjadi salah satu pembicara di sidang PBB yang diselenggarakan di Gedung CR6 gedung ADNEC, Abu Dhabi, Uni Emirates Arab, Senin (16/12).

Dalam rangkaian konferensi yang dihadiri sejumlah negara penandatangan konvensi PBB anti korupsi atau COSP-UNCAC itu, diselenggarakan sesi khusus tentang perlindungan bagi lembaga anti korupsi dan pegawai anti korupsi.

Novel mengawali dengan membeberkan sukses KPK di Indonesia dalam memberantas korupsi.

“Keberadaan KPK menaikkan 21 poin IPK (Indeks Persepsi Korupsi) dari 17 menjadi 38 dan menurut data TI, kenaikan ini terbaik dunia,” tutur Novel.

Selama bertugas sebagai kasatgas penyidik, Novel menyebut tidak kurang ada 197 tersangka yang berhasil dijebloskan ke penjara. Termasuk ketua MK, Ketua DPR, tiga menteri, enam gubernur, 72 anggota DPR/DPRD, 18 bupati dan walikota, dua jenderal polisi, empat hakim, dan tiga jaksa.

“Dari tuntutan TPPU dari kasus yang ditangani ini berhasil sebesar lebih dari Rp 2 triliun,” jelas dia.

Teror Penyiraman Air Keras

Karena sejumlah kasus yang ditanganinya KPK, teror hingga penyerangan pun terjadi terhadap penyidik KPK. Ada sekitar tujuh teror yang dialami. Novel menyinggung soal penyiraman air keras yang menimpanya.

“Disiram air keras hingga kedua mata hampir buta, tiga kali ditabrak motor dan mobil hingga terluka. Dipenjarakan, dikriminalisasi, dan beberapa bentuk teror lain,” kata Novel.

Menurut Novel, terhitung sudah 979 hari kasus penyerangan terhadapnya belum terungkap. Dia menegaskan bahwa lembaga antikorupsi dimana pun, tidak boleh takut. Risiko besar muncul karena berbuat benar.

Novel berharap, PBB dapat mengeluarkan resolusi yang dapat lebih melindungi pegawai antikorupsi. Prinsip perlindungan tersebut sendiri diatur dalam Jakarta Principle on Anti corruption, dokumen yang disepakati dunia pada November 2012 di Jakarta.

Pinsip itu juga diperkuat oleh Colombo Commentary, yang merupakan panduan lebih detil prinsip Jakarta tersebut. Bahkan asosiasi antikorupsi sedunia alias International Association on Anti Corruption Authorities (IAACA) mengakui dan mendukung prinsip tersebut.

“Revisi UU KPK, menyempurnakan pelemahan KPK. Walaupun ratusan ribu mahasiswa pelajar menolak Revisi UU KPK, namun Presiden dan DPR menyetujui revisi UU KPK,” Novel menandaskan.

Selain Novel, hadir juga sejumlah tokoh yang menjadi pembicara. Mereka adalah mantan Ketua MACC Dirjen GIACC, PM Tun Mahathir Muhammad; Anti Corruption advisor UNODC Samuel de Jaegere; Dirjen CIABOC Sri Langka, Sarath Jayamanne; dan sekjen TI Indonesia, Dadang trisasongko.

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber :(Merdeka.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.