Sab. Des 14th, 2019

tunasnews.com

Tajam,Kredibel dan Berimbang

Benarkah bunuh diri bisa “menular”?

2 min read

Foto Istimewa

Jangan menghakimi orang yang meninggal dengan

tujuan menghibur, fokus sama yang masih berusaha

untuk bertahan

Jakarta (Tunasnews.com) – Pemberitaan besar-besaran tentang bunuh diri secara sensasional dapat memantik ide untuk melakukan hal serupa, menciptakan kesan bahwa bunuh diri dapat “menular”.

Benny Prawira, pendiri komunitas Into The Light Indonesia yang jadi pusat advokasi, kajian, dan edukasi pencegahan bunuh diri dan kesehatan jiwa di Indonesia, mengatakan penularan yang dimaksud bukan dalam bentuk virus atau wabah seperti penyakit menular pada umumnya.

“Maksud penularan adalah adalah bisa ditiru,” ujar Benny .

Dia mengatakan “penularan” bisa terjadi ketika media memberitakan kejadian tersebut, terutama bila terjadi pada pesohor, secara berkepanjangan dengan mengumbar kronologi, metode dan asumsi tunggal penyebab bunuh diri seseorang.

Benny menuturkan, ada banyak faktor kompleks yang menjadi penyebab bunuh diri sehingga media tidak bisa mengasumsikan hanya ada satu penyebab tunggal yang mendorong seseorang mengakhiri hidupnya.

Bila diasumsikan hanya ada penyebab tunggal, dikhawatirkan orang yang mengalami masalah serupa akan mencari “jalan keluar” dengan cara yang sama.

Berdasarkan studi di jurnal Society and Mental Health, seperti dilansir Time, pemberitaan tentang bunuh diri bisa mendorong peniruan, tapi bila penulisannya edukatif, justru bisa membantu mencegah hal yang sama terulang.

Penyintas kehilangan bunuh diri

Saat seseorang bunuh diri, orang-orang yang ditinggalkan akan mengalami dampak emosional yang besar dan duka mendalam karena orang yang mereka sayangi pergi dengan cara yang berbeda.

Penting untuk mendukung orang-orang yang ditinggalkan agar tidak ikut terpuruk, ujar Benny.

Para penyintas kehilangan bunuh diri bisa jadi tak hanya merasakan kesedihan, tapi juga bertanya-tanya mengapa orang terdekat mereka mengakhiri kehidupannya sendiri.

Memberi dukungan pada penyintas kehilangan bunuh diri penting, sebab mereka merasakan duka yang sangat kompleks. Bila orang yang ditinggalkan juga mengalami depresi dan tidak mendapat dukungan atau pertolongan, bukan tidak mungkin tragedi yang sama dapat terulang.

Menurut Benny, respons yang tepat untuk mendukung para penyintas ini adalah dengan menghibur dan membantu segenap tenaga tanpa mengorek luka yang mereka rasakan.

“Tanyakan pada orang yang ditinggalkan, apa yang bisa saya bantu, misalnya mengatur pemakaman, kita tidak perlu bertanya ‘kenapa dia bunuh diri?’, tak perlu berasumsi.”

“Jangan bilang ‘memang ya, dia egois tidak memikirkan kamu’ walau itu maksudnya menghibur. Jangan menghakimi orang yang meninggal dengan tujuan menghibur, fokus sama yang masih berusaha untuk bertahan.”

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber :(Antaranews.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.