Kam. Des 12th, 2019

tunasnews.com

Tajam,Kredibel dan Berimbang

20 Ribu Ton Beras Bulog Alami Penurunan Mutu, Bakal Dibuang?

2 min read

Foto Istimewa

TunasNews – Sebanyak 20 ribu ton beras milik Perum Bulog dikabarkan mengalami penurunan mutu. Hal ini terjadi lantaran beras-beras itu telah disimpan selama lebih dari empat bulan, tepatnya sudah berusia lebih dari setahun.

Menanggapi timbunan beras dengan penurunan mutu itu, Perum Bulog pun berencana melakukan pemusnahan atau disposal beras. Namun sejak niat itu disampaikan pekan lalu, Perum Bulog diketahui belum mengeksekusi rencananya karena terganjal masalah jaminan penggantian anggaran.

“Kami sudah jalankan sesuai Permentan tapi untuk eksekusi disposal anggarannya tidak ada,” kata Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Tri Wahyudi, Jumat (29/11). “Kalau kami musnahkan lantas bagaimana penggantiannya?.”

Lama tak ada kabar, kekinian Perum Bulog mencoba “menawarkan” solusi lain untuk 20 ribu ton beras tersebut. Tak jadi dibuang, beras-beras itu akan dilelang terlebih dahulu sebelum diolah kembali menjadi produk lain.

“Mekanismenya akan dilelang. Nanti terserah yang membeli untuk dijadikan apa,” ujar Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso di Gedung Bulog, Jakarta, Selasa (3/12). “Yang mau dijadikan tepung, juga silakan. Tapi dilelangnya harus jadi tepung, bukan jadi beras. Ada perjanjiannya nanti.”

Buwas, demikian akrab ia dipanggil, membenarkan bahwa cadangan beras pemerintah (CBP) yang telah disimpan lebih dari empat bulan berpotensi mengalami penurunan mutu. Kualitas 20 ribu ton CBP di Bulog pun telah diperiksa oleh BPOM dan Kementerian Pertanian, yang mana dinyatakan telah rusak atau turun mutu.

Namun demikian, beras-beras tersebut sejatinya masih memiliki manfaat bila dilakukan pengolahan lebih lanjut. Seperti dengan dijadikan tepung beras, pakan ayam, hingga menjadi senyawa lain seperti etanol.

Oleh karena itulah Buwas optimis CBP yang telah turun mutu itu masih bisa dilelang. Dana hasil lelang akan diterima oleh Bulog untuk dilaporkan kepada Kementerian Keuangan.

Namun tentu akan ada selisih harga lelang, mengingat CBP yang ditawarkan merupakan produk dengan penurunan kualitas. Nantinya selisih harga itulah yang diharapkan bisa diganti oleh pemerintah.

“Karena ini merupakan CBP, kita mengajukan adanya selisih harga dengan harga jual,” terang Buwas. “Kalau kita dulu beli Rp8 ribu per kilogram, harganya (dilelang) jadi Rp3 ribu. Selisih Rp5 ribu itu diganti oleh negara.”

 

 

 

 

Sumber: Wowkeren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.